Artikel

Bekas Ramadhan

Mestinya kita selalu memuhasabahi kabar Ramadhan. Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah berlalunya bulan penuh kemuliaan? Adakah bekas-bekas yang tertinggal atau madrasah takwa selama sebulan itu justru menguap tanpa kesan. Maka sekali lagi, kita butuh meniru apa yang dilakukan orang-orang shalih terdahulu.

Ketika Ramadhan datang mereka sangat serius melakukan kebaikan. Namun setelahnya, jiwa justru bergolak, karena risau ibadahnya diterima atau tertolak. Bersebab mereka paham bahwa Allah hanya akan menerima amal yang disertai dengan keikhlasan, ketaqwaan, dan semata berdasar apa yang Rasulullah tuntunkan.
“Sungguh Allah hanya akan menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa”(QS. Al-Maidah : 27)

Maka tak heran jika mereka selalu berdoa selama Ramadhan dan lima bulan setelahnya agar ibadah mereka di bulan Ramadhan diterima Allah. Sedangkan enam bulan lainnya memohon karunia agar dijumpakan lagi dengan bulan Ramadhan.

Tetapi ternyata ada sebagian kita yang keadaannya justru sebaliknya. Ramadhan tak ubahnya sebagai beban. Bulan yang berat dijalani karena menjadi penghambat duniawi. Maka ketika bulan Ramadhan usai mereka seakan bersorak sorai, merasa bebas menganggap kewajiban berat itu telah selesai. Seorang ulama salaf pernah melihat sekelompok orang yang terlalu bersuka cita dengan tertawa tawa di hari raya. Maka beliau pun berkata “Jika puasa mereka diterima Allah, apakah tertawa tawa seperti itu adalah gambaran orang yang bersyukur? Tetapi jika puasa mereka tidak diterima, apakah tindakan mereka itu adalah gambaran orang yang takut akan siksaNya?”
Astaghfirullahaladziim semoga kita bisa merenungi sungguh-sungguh nasehat ini…

Ada pula sebagian kita yang selama bulan Ramadhan ibadahnya rajin nggak karuan. Tetapi selepasnya ia seperti direset, kembali kepada settingan awal. Tak ada perubahan, tidak nampak naiknya level ketakwaan. Bahkan kadang kondisinya malah lebih buruk dibandingkan sebelumnya.

Terhadap fenomena ini, pernah ditanyakan kepada Bisyr bin al Harits al Hafi (seorang alim mantan pemuda berandal yang sering dikunjungi Imam Ahmad bin Hanbal) tentang orang-orang yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan. Beliau berkata “Seburuk buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal hak Allah kecuali di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang shalih itu adalah orang yang beribadah dengan bersungguh sungguh, sepanjang tahun secara penuh.”

Saudaraku, adakah kita termasuk salah satu dari dua golongan itu? Jika benar, sungguh kita takut hal ini merupakan pertanda tidak diterimanya amal ibadah kita. Karena di antara tanda diterimanya ketaatan adalah adanya ketaatan setelahnya. Seperti disebutkan dalam kitab Lathaiful Ma’arif karya Ibnu Rajab berikut : “Ganjaran perbuatan baik adalah (mendapatkan taufik untuk melakukan perbuatan) baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, itu merupakan tanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama. Sebaliknya, orang yang mengerjakan amal kebaikan lalu dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan tanda tidak diterimanya amal kebaikan tersebut.”

Mari tetap bersungguh-sungguh dalam kebaikan meski telah berlalu bulan Ramadhan. Jika saat Ramadhan malam kita selalu terisi sholat malam, tidak bolong shubuh berjamaahnya, bisa bersedekah setiap harinya, terus lanjutkan dan tingkatkan kualitasnya. Karena hari-hari ke depan adalah hari-hari yang akan terasa lebih berat.

Tidakkah kita ingat, saat ini kondisinya begitu berbeda. Belenggu yang mengikat setan selama Ramadhan telah terbuka, hingga mereka leluasa memainkan syahwat kita. Meski tipu daya mereka sangat lemah (QS. An-Nisa: 76) tetapi kita tak boleh lengah. Wajib bagi kita untuk selalu waspada dan menyerahkan segala sesuatunya kepada pertolongan Allah semata. “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya sebagai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (An-Nahl:99-100)

Kuatkan diri kita untuk selalu melakukan ketaatan walaupun itu hanya sedikit. Karena ia adalah jalan cintaNya kepada kita. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah apa yang dilakukan secara terus menerus, walaupun sedikit.” (HR. Muslim)

Terus menerus dalam kebaikan. Inilah makna istiqomah. Jalan keselamatan tempuhan para kekasih Allah. Istiqomah adalah bekas-bekas Ramadhan yang tersisa. Tanda diterimanya amal-amal kebaikan di bulan yang penuh berkah itu.
Lalu bagaimana agar kita terus bisa istiqomah melaksanakan ketaatan? Berikut lima di antaranya, semoga Allah memberikan taufiknya agar kita bisa melaksanakannya.

Pertama, bersegeralah dalam berbuat baik. Setiap ada peluang, segera laksanakan dan jangan menunda-nunda amalan. Karena kita tidak tahu berapa menit ke depan mungkin kesempatan itu telah direnggut oleh aktivitas kita lainnya.
Kedua, bersungguh-sungguhlah dalam melakukan ketaatan. Percayalah, bahwa bisa melaksanakan ibadah itu adalah sebuah kenikmatan yang tak tertandingi. Maka layaknya makanan, jangan buru-buru menyelesaikannya. Nikmatilah setiap seduhannya agar buah ibadah dapat kita petik dengan sempurna.
Ketiga, kontinyu. Buatlah jadwal khusus dari bangun tidur hingga terlelap kembali. Selipkan disana waktu-waktu khusus kita harus melakukan ibadah-ibadah sunnah. Lalu upayakan untuk mematuhi schedule itu seberat apapun kondisinya. Maka insya Allah kontinuitas kita dalam beribadah akan terjawab. Anda juga bisa menggunakan alat bantu, misalnya dengan menginstall aplikasi sunnah harian di smartphone anda untuk memudahkan merutinkan ibadah kita.
Keempat, selalu datangi majlis ilmu dan bergaullah dengan orang-orang shalih.
Kelima, berdoa agar kita bisa istiqomah dalam beribadah, misalnya dengan doa berikut ini : “Allahumma ‘ainni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik. Ya Allah, tolonglah hamba agar selalu bisa berdzikir mengingatMu, untuk selalu mensyukuri nikmat-nikmatMu, dan untuk selalu memperbaiki ibadahku kepadaMu.”

Saudaraku, mari setelah Ramadhan berlalu selalu kuatkan diri kita, matangkan tekad kita. Setiap detik, setiap hari, setiap waktu untuk senantiasa teguh dalam menetapi jalan-jalan kebaikan. Karena ia adalah salah satu kunci akan kemana ujung akhir perjalanan kita. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata) : ‘Janganlah engkau takut dan bersedih. Dam bergembiralah engkau dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’.” (QS. Fushilat : 30)

Oleh : Danang Priyanto (Pemimpin Redaksi Majalah Nurul Hayat)

Sumber : Majalah Nurul Hayat Edisi 150 Juli 2016 (Ramadhan – Syawal 1437 H)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.