Tulisan

Betulkah Kita Hidup di Tengah Masyarakat Islamophobia?

Menurut data Global Religius Future, Indonesia merupakan negara muslim terbesar dengan presentase 12% dari total populasi muslim dunia. Namun di negeri yang mempunyai kuantitas tersebut, kita justru menemukan sebagian muslim berkata, “udah deh jangan ekstrem-ekstrem, kita beragama yang biasa-biasa aja”, atau “memang perlu ya berkerudung panjang?”. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini  pernah  bergelayutan di masyarakat sekitar kita. Dalam kondisi lain, kita yang memang muslim dan muslimah itu sendiri merasa canggung membicarakan perkara yang berbau “agamis”. Inilah yang disebut Fenomena Islamophobia, adalah bentuk ketakutan berupa kecemasan yang dialami seseorang maupun kelompok sosial terhadap Islam, serta disertai prasangka bahwa Islam adalah agama yang tidak pantas untuk berpengaruh terhadap nilai-nilai yang telah ada di masyarakat. suatu cara pandang yang meletakkan Islam sebagai sesuatu yang buruk, sehingga membuat takut dengan keadaan Islam itu sendiri. Lalu, bagaimana kondisi ini bisa terjadi? Pengaruh seperti apa yang dibawa kepada masyarakat muslim kita?

Hal ini dimulai dari kegemparan penabrakan menara kembar WTC (World Trade Centre) yang berada di New York, USA pada 2001 oleh kelompok radikal asal Timur Tengah dan didanai kelompok Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden, hingga beberapa tragedi pengeboman pada gereja di beberapa daerah di Indonesia. Media internasional diikuti media lokal ramai-ramai memberitakan isu yang tidak menyenangkan, yaitu terorisme. Hal yang paling digaungkan isu ini adalah karakteristik teroris yang menggunakan pakaian syari dan mengenakan cadar.  Doktrin ini sedikit banyak mengaburkan pandangan masyarakat muslim bahwa muslim tidaklah perlu untuk terlalu patuh pada Islam, sehingga perlahan berhasil mengikis keimanan seorang muslim terutama muslimah yang berniat hati ingin menutup aurat secara sempurna. Muslimah yang hendak menggapai ridho Tuhannya diteriaki mabuk agama. Keimanan yang seharusnya terus didengungkan justru terpadamkan.

Fenomena yang telah melekat ini perlu dibebaskan dari eksistensi muslim di Indonesia. Toleransi yang kita bangun untuk saudara non muslim sejatinya perlu kita letakkan pertama pada saudara semuslim. Muslim dan muslimah yang terbiasa dengan non muslim berpakaian mini, sejatinya akan jauh lebih mendukung saudari-saudarinya yang berniqab. Dengan dukungan yang didapatkan dari teman-teman Muslimah, maka betapa indah peradaban Islam yang akan terjadi, peradaban dengan Muslimah yang bukan saling membelakangi, akan tetapi saling membentengi. Semoga kita para Muslimah dapat meneruskan nafas Islam dengan baik dan mampu masuk dalam barisan Sayyidah Fatimah di Jannah nanti.