Tulisan

Bolehkan Seorang Muslimah Memanjangkan Kuku?

Tampil menarik di depan orang lain memang terkadang merupakan idaman setiap wanita. Ragam upaya dilakukan untuk merias dan mempercantik diri. Salah satu upaya yang ditempuh, antara lain, dengan cara memanjangkan kuku. Ada yang lantas mewarnai atau melukis kuku tersebut dengan varian motif dan warna. Lalu, apa sebetulnya hukum memanjangkan kuku itu sendiri bagi wanita? 

Prof. Abd al Karim Zaidan menjelaskan persoalan yang berkaitan dan ihwal pemanjangan kuku bagi perempuan Muslimah itu dalam bukunya yang berjudul, al-Mufashal fi Ahkam al-Marati. Dia menegaskan, para ulama sepakat hukum memanjangkan kuku, apapun motifnya, tidak diperbolehkan. Larangan ini sangat berdasar karena tindakan tersebut dianggap bertentangan dengan sunnah. Bukan hanya sunah Nabi Muhammad SAW, melainkan juga sunnah para nabi terdahulu. 

Rasulullah SAW menyerukan hendaknya memotong kuku, bukan malah memanjangkannya. Ini sesuai dengan sabda Rasul yang dinukilkan oleh Bukhari dan Muslim. Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

الفطرةُ خمسٌ ، أو خمسٌ من الفطرةِ : الختانُ ، والاستحدادُ ، ونتفُ الإبطِ ، وتقليمُ الأظفارِ ، وقصُّ الشاربِ

Sunnah fitrah ada lima, atau lima hal yang merupakan fitrah: khitan (sunat), istihdad (mencukur rambut kemaluan), memotong kuku, mencukur kumis, dan mencabut rambut ketiak.” (HR. Bukhari no.5889, Muslim no.257)

Selain itu, terdapat pula hadits yang menyebutkan tentang tenggat waktu untuk memotong kuku. Dalam hadits tersebut tidak hanya menyebutkan tenggat waktu untuk memotong kuku, melainkan tenggat waktu memotong kumis, rambut di ketiak, maupun rambut di kemaluan. Dari Anas radhiallahu’anhu, bahwa ia berkata:

وقَّت لنا في قص الشارب وقلم الظفر ونتف الإبط وحلق العانة ألا يدع ذلك أكثر من أربعين ليلة

Kami diberi tenggat waktu untuk memotong kumis, memotong kuku, mencukur rambut ketiak dan mencukur rambut kemaluan, yaitu hendaknya tidak dibiarkan lebih dari 40 hari.” (HR. Muslim dalam Kitaabut Thaharah, bab Khishalul Fithrah, no. 258)

Ada banyak hikmah di balik larangan memanjangkan kuku. Paling utama menyangkut kebersihan dan kesucian anggota tubuh, terutama pada bagian jari tangan di daerah kuku. Dengan tidak memanjangkan kuku, akan menghindari penumpukan kotoran pada sela-sela kuku tersebut. Ini bisa berdampak pada akumulasi bakteri yang bisa berakibat fatal pada kesehatan tubuh. 

Sedangkan hikmah dari aspek kesuciannya, memendekkan kuku menutup kemungkinan adanya najis yang menempel atau tersisa di sela-sela kuku. Terutama, najis yang datang pasca bersuci dari hadas kecil, baik buang air kecil atau buang air besar. Maka, bila dibiarkan dalam kondisi panjang dan disertai dengan unsur kesengajaan, apabila ada najis walau sedikit yang menyelip pada celah kuku itu, bisa berpengaruh pada keabsahan shalat. Karena itu, dianjurkan memotong kuku secara saksama hingga tidak menyisakan celah bagi terselipnya kotoran.

Sumber :
https://kumparan.com/hipontianak/memanjangkan-kuku-agar-terlihat-indah-bolehkah-dalam-pandangan-islam-1vIm8bvuhSn/full
https://republika.co.id/berita/humaira/samara/mu46gq/bolehkah-muslimah-memanjangkan-kuku
https://www.liputan6.com/ramadan/read/3560057/panjangkan-kuku-agar-cantik-ingat-batasnya-menurut-islam

https://muslimah.or.id/10800-bolehkah-wanita-memanjangkan-kukunya.html
https://dalamislam.com/hukum-islam/wanita/hukum-memanjangkan-kuku-bagi-wanita