Tulisan

Catatan Organisasi-ku #3 📔✏

Assalamu’alaykum… 😊

The last chapter of ‘Catatan Organisasi-ku’

Ngomongin organisasi, pasti ada konflik di dalamnya, mengingat dalam organisasi beranggotakan orang-orang yang berbeda-beda, entah itu dari pola pikir, kedewasaan, ataupun latar belakangnya.

Di part 3 ini, mau bahas tentang konflik nih. Harapannya bisa dijadiin (lagi-lagi) introspeksi buat kita. Yuk, langsung aja yaa..

 

We start from the definition of ‘conflict’

Konflik akan timbul bila terjadi ketidakharmonisan antara seseorang dalam satu sekelompok dan orang lain dari kelompok yang lain. Konflik tersebut dapat terjadi dalam lingkup rumah tangga, perusahaan, organisasi, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konflik berbeda dengan perbedaan pendapat. Akan tetapi perbedaan pendapat yang tidak diakomodasikan dengan baik dapat melahirkan konflik dan pertentangan yang membahayakan, kemudian mengakibatkan hilangnya kekuatan persatuan.

Oleh karena itu, disini perlu disosialisasikan bahwa perbedaan pendapat tidak dapat dianggap sebagai sebuah konflik. Disadari atau tidak, konflik akan selalu ada. Hal terpenting yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan aturan-aturan untuk mengatasi konflik itu.

 

Pada dasarnya konflik adalah sesuatu yang wajar terjadi. Karena sebagai manusia dalam suatu organisasi , masing” memiliki latar belakang keluarga, pendidikan, kebiasaan, atau kepribadian.

Nggak akan ada abu tanpa adanya api. Nggak akan ada konflik kalo nggak ada sumber penyebab konflik itu terjadi, perlu diketahui guys, apa aja sih penyebab ato sumber dari konflik itu? Oleh karena itu, harus dipelajari apakah hal-hal yang menjadi sumber konflik. Setelah sumber konflik itu diketahui, barulah sebuah konflik dapat dipecahkan.

Sumber konflik bukan sekedar masalah teknis, melainkan juga sikap seorang pemimpin yang kurang manusiawi. Harus disadari bahwa ukuran kebahagiaan sseorang yang bekerja tidak selalu diukur dengan uang, melainkan juga oleh suasana kerja yang nyaman dan nikmat. Oleh karena itu, pemimpin juga harus memperhatikan suasana kerja para bawahannya. Siapa tahu ternyata ketidaknyamanan kerja bawahan disebabkan sikap pemimpin yang tidak disenangi oleh bawahan karena tidak pernah memberikan contoh yang baik.

 

Walau konflik emang sesuatu yang wajar terjadi, tapi kehadiran konflik bisa diantisipasi, cari tau yuk gimana cara mengantisipasi konflik!

  1. Harus ada pengakuan dari seorang pemimpin bahwa semua karyawan adalah saudara yang harus diperlakukan oleh pemimpin sebagai saudara. Seorang pemimpin jangan menganggap karyawan sebagai bawahan saja yang dapat diperlakukan seenaknya. Artinya, hubungan yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan harus dibangun. Insya Allah akan terjadi jaringan komunikasi yang baik antara seorang pemimpin dan bawahannya, maka konflik yang dapat terjadi bisa dieliminasi.
  2. Jika ada informasi mengenai sesuatu, maka harus tabayun (diklarifikasi). Tidak boleh seseorang dikatakan melakukan A atau B dan langsung diberikan sanksi tanpa adanya klarifikasi.
  3. Perlu dijalin hubungan silaturahmi yang kuat antara seorang pemimpin dan bawahannya, serta antara bawahan dengan bawahan sendiri. Memang harus diakui bahwa ada perbedaan tugas antara pemimpin dan bawahan. Baik berdasarkan fungsi maupun tanggungjawab. Akan tetapi sebagai manusia, kita tetap perlu menjalin dan menciptakan hubungan silaturahmi yang baik. Hubungan silaturahmi dengan sesama manusia diwujudkan dengan perilaku ihsan, yaitu sikap peduli kpada sesama manusia dengan mengaktualisasikan kebaikan-kebaikan dalam hubungan sosial serta sikap menahan diri dari perbuatan yang merugikan mereka.

 

Untuk melengkapi uraian di atas, ada sedikit uraian lagi nih tentang penyebab timbulnya konflik dan hal-hal yang dapat diupayakan untuk mengatasinya.

Konflik dan pertentangan dapat timbul karena beberapa sebab.

  1. Pemahaman islam yang tidak komprehensif dan kaffah (aspek pemahaman)
  2. Ta’asub dan fanatisme yang berlebih-lebihan kpada kelompoknya sendiri dan cenderung meremehkan (menihilkan) kelompok lain, padahal masih sesama umat islam.
  3. Kurang tasamuh atau toleransi terhadap perbedaan-perbedaan yang terjadi, sehingga menutup pintu dialog yang kreatif dan terbuka.
  4. Kurang bersedia untuk saling menasehati antara sesama umat islam untuk mengurangi berbagai kelemahan dan kekurangan yang ada (aspek keikhlasan)
  5. Kurang memahami kawan dan lawan yang sesungguhnya, sehingga sering salah mengantisipasi dan mengambil kesimpulan.
  6. Kurang memiliki skala prioritas pekerjaan yang harus dilakukan, sehingga mudah tercecer dalam implementasi dan aplikasinya.
  7. Belum terbiasa melakukan pembagian tugas baik antar individu maupun antar lembaga atau organisasi yang dimiliki umat.

 

Konflik-konflik yang terjadi harus diatasi dengan menciptakan ukhuwah islamiyah yang kokoh di antara umat islam. Ukhuwah islamiyah adalah karunia dan nikmat Allah swt (QS. Ali-Imran : 103) harus terus-menerus diupayakan penerapannya dalam kehidupan secara maksimal.

 

Sedangkan hal-hal yang diupayakan antara lain sebagai berikut.

  1. Secara terus menerus melakukan kegiatan tarbiyah islamiyah terhadap umat dengan manhaj teratur, sejalan dengan pokok-pokok ajaran islam dan juga sirah nabawiyyah. Materi dan metode pengajian-pengajian dan majelis-majelis taklim harus terus menerus ditingkatkan dan dikembangkan sejalan dengan perkembangan kebutuhan umat.
  2. Berusaha terus menerus memasyarakatkan pelaksanaan komponen-komponen ukhuwah yang sangat bermanfaat, seperti ajaran silaturahmi, ishlahu dzaatil-bain (cepat menyelesaikan perselisihan), huququl muslim (membudayakan hak-hak sesama muslim), tausiyah dan nasehat, huznudzan, musyawarah, dan sebagainya.
  3. Memperbanyak dialog untuk menyamakan persepsi terhadap masalah yang fundamental, menghindari konflik-konflik kontroversial, serta menahan diri dalam komentar-komentar untuk masalah-masalah yang belum jelas, sehingga budaya ukhuwah akan tercipta antara kekuatan umat islam dan jika muncul perbedaan tidak akan bersifat antagonistik.
  4. Meningkatkan peran lembaga lintas organisasi dalam berbagai tingkat (nasional maupun daerah) seperti forum silaturahmi dan dialog dakwah (yang dibentuk oleh berbagai organisasi islam).

 

Demikian pembahasan tentang konflik, semoga dari yang sedikit ini bisa meminimalisir terjadinya konflik dalam organisasi. Konflik emang nggak bisa dihindari, tapi setidaknya bisa kita minimalisir, okey? 😉

 

Yup, dengan berakhirnya part 3 ini, berakhir pulalah post edisi ‘Catatan Organisasi-ku’. Semoga dari part 1 sampai 3 ini dapat kita petik manfaatnya. Aamiin…

Sekian, wassalamu’alaykum… 😊

 

Sumber : Manajemen Syariah dalam Praktik | DR. K. H. Didin Hafidhuddin, M.Sc – Hendri Tanjung, S.Si, M.M. | Gema Insani Press | Jakarta, 2003.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.