Artikel

Hijrah Sepanjang Waktu

Sunnah hijrah sebenarnya bukan hanya pada zaman Rasulullah ﷺ. Para nabi-nabi terdahulu sebenarnya juga telah melaksanakan hijrah. Ini menyiratkan pesan bahwa, sejak dahulu dan sampai kapan pun kebenaran akan selalu bersinggungan dengan kebatilan. Dan hijrah, adalah konsekuensi dari pertentangan itu. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, beliau berhijrah dari negerinya di Babilonia menuju Syiria (Syam) karena kekejaman raja Babilon yaitu Namrudz. Lalu beliau pernah hijrah ke Mesir dan kembali ke Syiria. Nabi Musa ‘alaihissalam menghijrahkan kaumnya Bani Israil dari Mesir ke Palestina karena kekejaman Fir’aun. Dan beberapa kisah lain hijrahnya para Nabi yang meninggalkan negeri dan kaumnya yang membangkang.

Secara khusus hijrah artinya meninggalkan negeri yang berisi kemungkaran dan kekafiran menuju negeri Islam yang penuh keadilan. Sedangkan pengertian secara luasnya, hijrah adalah menjauhi secara fisik, lisan, atau minimal memalingkan hati dari situasi buruk yang sedang terjadi. Meskipun tidak ada aktivitas berpindah ke wilayah lain. Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah riwayat berikut :

Suatu ketika ada seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah ﷺ , “Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepada kami tentang hijrah? (Hijrah harus menuju) ke tempat engkau berada atau (kewajiban itu) hanya terkhusus suatu kaum tertentu saja ataukah di tempat yang memang telah diketahui? Dan apakah ketika engkau wafat kewajiban berhijrah telah gugur?”

Rasulullah ﷺ terdiam sesaat lalu berkata, “Dimana orang tadi?” Lalu orang Arab badui itu menjawab, “Saya, ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Hijrah itu adalah engkau menjauhi perbuatan keji, baik yang nampak maupun tidak. Engkau tunaikan shalat dan zakat, dan engkau akan tetap disebut Muhajir (orang yang berhijrah) meskipun engkau wafat di tempatmu.” (HR. Ahmad).

Menurut pendapat jumhur ulama, hijrah dari daerah atau negara satu ke daerah lain menjadi wajib apabila seorang Muslim tidak mampu menampakkan ibadah dan keislamannya di wilayah tersebut karena berada di bawah ancaman. Apabila di negeri tersebut seorang muslim berada dalam paksaan bermaksiat atau berbuat musyrik, maka ia wajib berhijrah. Adapun apabila ia tidak diganggu dalam ibadah serta menampakkan ketaatan agamanya, maka ia tidak wajib berpindah dari negeri tersebut meskipun negeri tersebut bukan negara Islam. Seperti di Indonesia, kita bebas melaksanakan ketaatan dan tidak ada paksaan bermaksiat, maka tidak ada kewajiban untuk kita berpindah ke negara Islam di luar Indonesia.

Suatu ketika seorang Arab badui datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang hijrah?” Nabi menjawab, “Jangan begitu, karena hijrah itu sangat berat. Begini saja, apakah kamu mempunyai unta?”, orang badui itu menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Beramalah tetap di negerimu, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala amalmu sedikitpun juga.” (HR. Bukhari).

Hadits ini menandakan tentang kebolehan tetap di sebuah negeri apabila negeri tersebut aman untuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Selanjutnya, marilah kita melihat hijrah secara luas. Yaitu ada 3 macam :

  1. Hijrahnya pelaku maksiat dari kemaksiatannya.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aala berfirman, “..dan terhadap perbuatan dosa berhijrahlah (fahjur).” (QS. Al-Muddattsir : 5).

Hijrah ini adalah hijrah wajib dan personal. Tidak melibatkan siapapun kecuali dirinya sendiri. Setiap orang yang mengaku beriman harus memiliki komitmen kuat untuk meninggalkan perbuatan dosa beserta segala sarana yang menyampaikan pada dosa tersebut. Inilah hijrah yang tidak ada batas waktunya. Sekali-kali kita tidak boleh kendur semangat. Adalah seorang sahabat bernama Abu Fatimah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu amalan yang aku perlu beristiqomah mengamalkannya?” maka Nabi menjawab, “Hendaknya kamu hijrah, karena tidak ada suatu amalan yang bisa menyamainya.” (HR. Nasa’i).

Nabi juga menyebut hijrah kemaksiatan ini sebagai hijrah terbaik. Sahabat Amru bin Ashabah radhiallahu ‘anhu mendatangi Rasulullah ﷺ dan bertanya, “Hijrah manakah yang lebih baik?” Lalu beliau menjawab, “Yaitu kamu berhijrah dari apa-apa yang dibenci oleh Tuhanmu ‘Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad).

  1. Hijrah dari komunitas dan lingkungan pelaku maksiat.

Sebagaimana yang Allah Subhaanahu Wa Ta’aala perintahkan, “..dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzzammil : 10). Maka tidak halal bagi seorang mukmin berdiam dan duduk berkumpul dengan orang-orang yang bermaksiat. Baik maksiat secara perbuatan ataupun bermaksiat secara lisan seperti rasan-rasan (menggunjing), fitnah, perkataan cabul, dan sebagainya.

Orang yang beriman harus berani mengambil keputusan menjauh dari kumpulan dan tempat duduk mereka. Kadang kita terpenjara oleh perasaan sungkan. Percayalah, tak selalu sungkan itu merupakan kebaikan. Apalagi bila sungkan itu jelas-jelas mengakibatkan kita menentang ayat-ayat Allah. Maka sungguh tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Bila tak sanggup menghentikan mereka karena posisi kita lemah, maka solusinya adalah “jauhi mereka dengan cara yang baik”. Jauhi dengan santun, pamit baik-baik, tak harus konfrontatif.

  1. Hijrah hati.

Yaitu komitmen hati kita untuk lebih tunduk kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aala. Yaitu dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aala dalam keadaan sepi maupun ramai. Hijrah dari berhukum kepada prinsip-prinsip hidup yang tidak jelas menuju prinsip yang diajarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi . Hijrah hati ini harus selalu ada pada diri kita. Sebab, perjalanan hidup kita tak selalu mulus. Kadang kita terjatuh dalam kelalaian dan pergeseran orientasi hidup. Saat itulah harus kita sadari bahwa kita butuh segera hijrah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Kewajiban hijrah tidak akan terputus selama masih ada taubat, dan taubat akan selalu diterima sampai matahari terbit dari barat.” (HR. Ahmad).

Demikianlah ketiga hijrah itu harus selalu melekat menjadi prinsip hidup seorang mukmin. Yaitu selalu komitmen untuk menjauhi maksiat, menghindari lingkungan atau kumpulan pelaku keburukan, dan mengikhlaskan hati dalam ketaatan kepada Allah. Hijrah seperti inilah yang oleh Sulthanul Ulama’ Imam Izz bin Abdussalam disebut sebagai sebaik-baik hijrah. “Hijrah ada dua : yaitu hijrah dari satu negeri ke negeri lain dan hijrah dari perilaku buruk. Yang paling baik adalah yang kedua, yaitu hijrah dari perilaku buruk. Karena ia mendatangkan keridhaan Allah Subhaanahu Wa Ta’aala dan membuat setan murka.”

Wallaahu A’lam Bisshowwaab

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.