Berita

HUJAN HUJATAN TAK SEBERAPA, HUJAN BATU?

HUJAN HUJATAN TAK SEBERAPA, HUJAN BATU?

Pernah mendengar sebuah kisah tentang Rasulullah SAW yang datang ke suatu tempat bernama Tha’if? Ya, Tha’if merupakan sebuah tempat yang berjarak 600 mil dari kota Makkah. Pada suatu saat Rasulullah SAW bersama Zaid bin Haritsah berjalan kaki menuju Tha’if. Perjalanan itu memakan waktu 4 hari, hingga peluh membasahi Tubuh Rasulullah SAW ketika sampai di Tha’if. Rasulullah berada di sana selama 15 malam. Setiap bertemu penduduk Tha’if di pasar, Beliau selalu mengucap salam dan menyeru untuk mengikrarkan kalimat syahadat. Sampai pada suatu ketika Rasulullah bertemu dengan penduduk Tha’if untuk meminta pertolongan dan menawarkan ajaran Islam kepada mereka. Namun apa yang terjadi? Mereka menolak mentah-mentah permintaan dan ajakan Beliau dengan kata-kata kasar. Rasulullah pun menyikapinya dengan sabar, dan meminta izin akan meninggalkan Tha’if. Namun apa yang terjadi? Penduduk Tha’if segera membentuk barisan untuk “mengiringi” kepergian Rasulullah SAW. Mereka mengiringi dengan cara melempari batu kepada Rasulullah SAW. Hujan batu tak bisa dihindari, Rasulullah SAW terus berlari meninggalkan Tha’if. Beliau berlari dengan kaki bersimbah darah, akibat pembuluh darah di lutut terkena lemparan batu penduduk Tha’if. Hingga Rasulullah SAW berlindung di sebuah tembok rumah yang terletak 3 mil dari Tha’if. Rasulullah tak sedikitpun membalas perbuatan penduduk Tha’if, melainkan beliau mendo’akan mereka supaya Allah memberikan petunjuk kepada kaum-Nya yang tidak “mengetahui”.

Masya Allah… Begitu dalam dan luasnya samudera kesabaran Rasulullah SAW. Sebenarnya, kesabaran itu tidak ada batasnya. Memang kita hanya manusia biasa yang tidak sesempurna Rasulullah SAW, tapi tetap kita harus menahan dan mengontrol emosi. Bukankah kita sebagai umat Rasulullah SAW harus meneladani akhlak dan perilaku Beliau? Nah, kalau kita mengaku sebagai umat Beliau, hendaknya kita belajar sabar dari Beliau. Ingat kisah tadi, kita harus bisa berusaha untuk menyamai perilaku yang Beliau contohkan. Mungkin di zaman sekarang kejadian seperti yang dialami Rasulullah tidak akan terjadi, tapi sikap yang beliau ambil harus kita teladani.

Apakah batas sabar itu ketika seseorang marah dan berbicara dengan nada tinggi, atau melakukan tindakan fisik?Apakah orang sabar itu selalu diam? Jawabannya mungkin “iya” untuk sabar level biasa, tetapi “tidak” untuk sabar level tinggi. Bisa jadi dia diam tapi di dalam hatinya masih ada rasa dongkol, atau bahkan dendam. Karena benar kata pepatah “Dalam laut bisa diduga, dalam hati siapa tahu?”. Berdasarkan kisah tadi, Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk sabar level tinggi, yang mana setara dengan ridho(ikhlas). Jadi, tanya pada diri sendiri, sudah sampai level manakah kesabaran kita?Apakah masih membalas hujatan di media sosial dengan hujatan yang lebih tajam?Atau diam, tapi menyimpan dendam kesumat?

Mari kita bersama-sama introspeksi diri dan berusaha meneladani sikap-sikap dan akhlak Rasulullah SAW. InsyaAllah dengan begitu, kita akan bisa berkumpul bersama Beliau di Surga-Nya Allah. Aamiin,aamiin, aamin Ya Rabbal Alamiin.

 

Oleh

el-zukhruf

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.