ArtikelIslam dan Sains

Islam dan Sains : Islam Mengajarkan untuk Menghargai Waktu

Di antara keutamaan Nabi Muhammad ﷺ  adalah selalu menghargai waktu. Berjalan dengan agak cepat adalah bentuk konsistensi beliau dalam mengatur waktu. Pernah suatu hari Abu Hurairah menirukan jalan Rasulullah ﷺ  pada saat mengantarkan jenazah seseorang. Apabila dia berjalan dengan langkah biasa, maka Rasulullah ﷺ  pasti mendahuluinya tapi apabila berjalan dengan setengah lari baru dapat bersamaan atau mendahului Rasulullah ﷺ.

Keutamannya yang lain adalah Rasulullah ﷺ selalu menghormati orang lain dengan memperhatikan waktunya. Beliau selalu mengunjungi keluarganya seusai perjalanan jauh pada waktu pagi, karena beliau tidak suka mengakhiri perjalanannya pada malam hari ketika hendak pulang kepada keluarganya, bahkan untuk hal ini beliau sampai melarangnya.

Pada ayat-ayat Al-Quran, Allah Subhaanahu Wa Ta’aala banyak menyinggung tentang waktu, termasuk bersumpah demi waktu dalam surat Al-Ashr ayat 1. Pada surah tersebut, Allah Subhaanahu Wa Ta’aala menekankan betapa pentingnya menghargai waktu dengan selalu beramal shaleh dan menjanjikan keberuntungan besar bagi yang mengamalkannya.

Perintah menghargai waktu lainnya adalah tersirat dalam waktu-waktu shalat yang telah Allah Subhaanahu Wa Ta’aala tentukan. Selain merupakan bentuk kewajiban paling asasi, shalat dapat pula menjadi media pembelajaran bagi umat Muslim untuk menghargai dan menepatinya.

Melalaikannya berarti berdosa. Pepatah Arab mengatakan, “Waktu bagaikan pedang yang apabila kita tidak menggunakannya dengan baik, maka celakalah kita.”

Masih banyak tekanan-tekanan untuk menghargai waktu, karena waktu adalah aturan yang tidak tertulis dan barangsiapa yang melalaikannya, selain kemudharatan, banyak hal yang menguntungkan tidak kita dapatkan. Dengan mematuhi waktu berarti menjalankan perintah Allah Subhaanahu Wa Ta’aala dan Rasul-Nya.

Kita pun mengetahui bahwa di balik perintah dan larangan-Nya ada hikmah dan pelajaran bagi kita. Sejatinya, waktu merupakan rambu-rambu kehidupan yang telah ditentukan oleh sang Pencipta Alam berikut instrumen-instrumennya.

Sungguh bukan sikap seorang Muslim apabila mengenyampingkan waktu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat padahal sebaik-baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan segala hal yang tidak berarti baginya.

Perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat sama dengan tidak menghargai waktu dan sia-sialah hidupnya. Sedangkan waktu hidup kita di dunia hanyalah satu kali, apakah kita akan menyia-nyiakannya?

Wallaahu A’lam Bisshowwaab.

Sumber : Majalah Nurul Hayat edisi 142 – Nopember 2015 (Muharram – Shafar 1437 H)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.