Tulisan

Katanya Muslimah, Kok Naik Gunung?

Ukhti, apakah kalian sudah tidak asing bukan dengan pertanyaan seperti ini? Apakah ukhti sendiri sebagai seorang muslimah pernah mengalaminya? Bagaimana reaksi ukhti sekalian saat menemui hal yang demikian, apakah kalian merasa tersinggung? 

Nah pada kesempatan kali ini kita akan membahas sedikit penjelasan mengenai bagaimana hubungan antara muslimah dan mendaki gunung. Mendaki gunung adalah suatu kegiatan berpetualang di alam terbuka menuju ke tempat yang lebih tinggi yang tujuannya adalah mencapai puncak gunung. 

Lalu, apakah ada peraturan yang melarang wanita khususnya muslimah berpartisipasi dalam kegiatan ini? Apakah ada dalil atau hadits terkait hal ini? Namun, kenapa bisa muncul pertanyaan seperti di atas yang kesannya memojokkan muslimah khususnya bagi pemilik hobi mendaki? Bukankah selagi tidak merugikan orang lain dan diri sendiri, kegiatan pendakian gunung bagi muslimah dapat dilakukan? Dalam hal ini sudah seharusnya kita membuka  pandangan dan kesadaran, bahwa kegiatan pendakian gunung tidak hanya dapat dikatakan mendaki semata, namun juga bentuk pendekatan spiritual kepada sang pencipta.

Dengan mendaki gunung kita dapat melihat secara langsung bentuk kekuasaan Ilahi, sehingga dapat meningkatkan ketaqwaan dan sifat syukur pada Allah SWT atas karunia yang diberikan.  Dengan mendaki gunung, kita juga akan merasa menyatu dengan alam dan lebih menghargai hal-hal kecil disekitar yang sebenarnya memberi manfaat besar bagi kehidupan kita. Mendaki gunung juga dapat menjadi alternatif di tengah hingar bingar dunia dan masalah kehidupan, kita mungkin akan sedikit tenang dalam menyelesaikan masalah serta berfikir positif.

Wanita muslimah dianggap memiliki karakter lemah lembut, seperti pendapat (Maggie Humm, 2003) wanita muslimah yang memiliki citra lemah lembut dan feminim oleh konstruk sosial seharusnya menunjukkan sifat tersebut. Sifat feminim biasa ditandai dengan sifat hangat, sensitif, lebih hati-hati, pemalu, dan halus. Sedangkan pendakian gunung dianggap identik dengan sesuatu yang menantang dan hanya diminati oleh pria, tetapi pendakian ini juga banyak diminati oleh wanita khususnya muslimah. 

Pandangan remeh dari orang sekitar dan tatapan “aneh” tak jarang terukir di wajah mereka ketika melihat pendaki muslimah. Beberapa komentar atau celetukan yang sering ditemui yakni mengenai hijab yang digunakan oleh para muslimah. Orang-orang kerap kali bertanya apakah tidak panas dan tidak terganggu menggunakan hijab ketika mendaki gunung.

Padahal sejatinya, hijab bukanlah penghalang muslimah untuk melakukan sesuatu kegiatan positif, hijab pun dapat menjadi tameng untuk menjaga diri dan perbuatan agar terhindar dari bahaya serta menjaga hati dan pikiran agar berjalan lurus di jalan-Nya. Wanita juga cenderung dikaitkan dengan hal lemah dan minim kemampuan, namun sekarang dapat dilihat dalam pengetahuan, bisnis dan karir, wanita mulai memposisikan dirinya sama rata dengan laki-laki.

Sampai saat ini tidak ada peraturan yang mengharamkan muslimah untuk mendaki gunung, asal tidak lupa dengan kewajiban dan selalu mengedepankan ibadah serta mengingat Allah SWT. Banyak pendaki muslimah memakai jubah hitam panjang dengan kerudung lebarnya, tidak ada kesulitan bagi muslimah tersebut untuk mendaki gunung. Ini menunjukkan bahwa apapun pakaian yang dikenakan, asalkan kita merasa nyaman dan itu merupakan hal positif, maka lakukanlah. Pendaki muslimah tersebut bercerita bahwasannya sudah sering dan cukup memiliki pengalaman dalam mendaki gunung. Cerita diatas merupakan cerita salah satu pendaki muslimah yang saya jumpai dan mungkin masih banyak lagi lainnya.

Sumber : 

jurnal.radenfatah.ac.id (dari artikelnya)

https://www.kompasiana.com/kailaisya/60b85e3f8ede4867155751d2/katanya-muslimah-kok-naik-gunung?page=all#section1