ArtikelTulisan

Kaukah muslimah tangguh itu?

 

Sepanjang perjalanan peradaban kuno wanita selalu diletakkan, dipandang rendah. pandangan seperti ini disebut sebagai pandangan misoginis. sesuai dengan catatan sejarah, dizaman mesir kuno wanita dianggap sebagai barang milik yang sewaktu-waktu dapat ditukarkan atau diwariskan, di romawi, hak-hak wanita tidak di akui. dilanjutkan pada tradisi orang jepang tahun 40an memandang bahwa wanita hanya untuk perhiasan yang dipandang saja.  Lain halnya dalam agama islam, Allah tidak membedakan orang beramal baik dari laki-laki maupun perempuan sama, maka selalu dipasangkan wal mukminin wal mukminat, wal muslimin wal muslimat, wa sholihin wa sholihat selalu seperti itu.

Pandangan misoginis melahirkan pergerakan yang disebut feminisme yang menganggap bahwa wanita memiliki hak yang setara tanpa memandang fitrah seorang perempuan dalam islam. Islam hadir dengan konsep yang jelas bahwa laki-laki dan perempuan setara tapi diciptakan berbeda guna saling melengkapi tugas masing-masing sesuai fitrahnya. Menjadi seorang wanita dalam islam adalah suatu kemuliaan yang hal itu tidak dapat digapai orang laki-laki. Surga yang ada dibawah telapak kaki seorang ibu, tugas mulai sebagai pendidikan paling mulia, bahkan tempat dimana calon manusia ditumbuhkan kesemua ini bentuk derajat mulia seorang wanita yang tidak dimiliki laki-laki.

Suatu ketika Ummu Salamah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai mana yang lebih utama antara wanita dunia dengan bidadari surga, Rasulullah saw. lalu menerangkan bahwa perempuan dunia ketika di surga akan sangat lebih utama dari bidadari surga karena shalat, puasa, dan ibadah yang dilakukannya, seorang wanita yang shalihah, kuat dengan ketaatan ketaatan nya dalam islam, wanita yang istiqamah inilah yang tak jarang dipandang sebelah mata oleh penduduk bumi tapi sangat terkenal di penduduk langit. Salah satu perbandingan kemuliaan wanita shalihah dunia dengan bidadari sebagaimana firman Allah dalam surah Ar Rahman ayat 72 :

حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

yang artinya : “Bidadari –bidadari yang dipelihara dalam kemah-kemah”..,

sementara wanita ahli surga berada di istana Ditempatkan ditempat yang lebih indah. Allah menciptakan bidadari secara langsung sedangkan wanita muslimah diciptakan melalui proses-proses ketaatan yang bertahap tidak instan taat layaknya bidadari surga. Maka, Keistiqmahan, kesholihaan seorang wanita di era seperti saat ini lah sangat diuji, hanya wanita-wanita tangguh yang mampu mendapatkan posisi yang mulia, terkenal dan dicemburui oleh bidadari di surga nantinya, kejarlah mimpi, terus kembangkan bakat-bakat, carilah ilmu sebanyak-banyaknnya dan yang terpenting adalah tetap sesuaikan dengan  fitrah sebagai seorang muslimah .

 

By : Departemen Nisa’

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.