Artikel

Keistimewaan Pagi yang Banyak Dilupakan

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa pemilik masa dan pencipta alam semesta, menjadikan pagi sebagai waktu yang istimewa. Di dalam Al-Quran, Allah mengambil waktu sumpah dengan waktu-waktu pagi. Seperti Walfajri (demi waktu fajar), Waddhuhaa (demi waktu Dhuha), Wassyamsi Wa dhuhaahaa (demi matahari dan cahaya-Nya di pagi hari). Tidaklah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa menjadikan waktu dan makhluk ciptaan-Nya sebagai penegas sumpah-Nya kecuali karena di dalamnya mengandung pelajaran berharga.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa meletakkan waktu pagi sebagai momentum membangun keintiman hubungan hamba dengan Rabbnya. Di dalam Al-Quran kita akan banyak mendapati ayat-ayat semisal QS. Ali Imron ayat 41 ini: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” Yaitu sebuah perintah khusus untuk bertasbih memuji Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa pada waktu pagi dan petang.

Semua ulama sepakat, bahwa yang dimaksud dengan bertasbih pada waktu pagi dan petang adalah melaksanakan shalat. Untuk meneguhkan aktivitas amaliah pagi, sampai-sampai Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa mensiratkan ciptaan agung-Nya yaitu gunung-gunung sebagai teman tasbih pagi hari mereka: “Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi.” (QS. Shaad: 18).

Mengapa Allah Subhaanahu Wa Ta’aala memberikan waktu yang istimewa untuk pagi hari? Hanya Allah yang Maha Tahu. Dialah pencipta masa dan Dia tidak layak dipertanyakan tentang perbuatan-Nya. Kita hanya bisa mengambil hikmah darinya, yaitu dengan senantiasa memberi perhatian pada waktu pagi hari. Setidaknya ada beberapa alasan yang bisa kita renungkan.

Waktu Terindah dan Menentramkan

Pagi adalah waktu yang paling indah dibandingkan waktu lainnya. Suasananya tenang. Udaranya sejuk. Tidak ada kebisingan. Suasana seperti ini sangat sulit ditemukan pada keadaan lain sehingga tidaklah seorang mukmin bangun dari tidurnya lalu menyusuri jalan antara rumahnya dengan masjid untuk shalat berjamaah kecuali dia akan mendapati pemandangan alam yang teduh, indah, dan menentramkan. Darinyalah terbetik rasa syukur kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, lalu dia bersyukur dengan kalimat yang diajarkan nabi, “Ya Allah, nikmat yang kuterima atau diterima oleh seseorang di antara makhluk-Mu di pagi hari ini adalah dari-Mu. Maha Esa Engkau, tiada sekutu bagiMu. BagiMu segala puji dan kepadaMu panjatan syukur (dari seluruh makhlukMu).” (HR. Ibnu Hibban).

Mereka yang pagi harinya dilalui dengan tidur, tidak akan memperoleh kenyamanan batin yang dipancarkan pagi. Memang tidur berlama-lama hingga terbit matahari sepertinya sedang memberi waktu pikiran beristirahat. Tapi lihatlah hasil penelitian dalam Jurnal Emotion tahun 2012.

Dijelaskan bahwa ternyata sistem syaraf sangat dipengaruhi kebiasaan bangun pagi. Gas ozon (O3) mencapai kadar tertinggi pada saat fajar (subuh) dan seterusnya menurun secara bertahap sampai tingkat terendah ketika matahari terbit. Gas ozon ini memberikan pengaruh positif terhadap sel-sel syaraf, melancarkan proses kerja otak dan otot dimana puncak produktivitas manusia terjadi pada pagi hari. Mereka yang bangun lebih pagi umumnya punya mood yang lebih ceria dan bahagia ketimbang orang-orang yang bangun terlambat.

Awal Manusia Terbangun dari Tidurnya

Pagi adalah waktu awal manusia bangun dari tidurnya. Sedangkan tidur adalah masa rehatnya pikiran sebagaimana firman Allah: “(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya,” (QS. Al-Anfaal: 11).

Saat jiwa dalam keadaan tenteram, maka ia akan mudah diwarnai dengan warna yang kita inginkan. Seperti air yang berada dalam sebuah nampan, keadaannya tenang, diam tidak mengalir, lalu kita tetesi dengan tinta berwarna, maka ia akan larut membuat air yang semula bening menjadi berwarna.

Begitulah tenangnya pikiran di pagi hari. Jika kita memberinya warna syukur, tafakur, dan ketundukan, maka warna itu akan terbawa sepanjang hari. Sebaliknya, bila ia kita warnai dengan urusan-urusan dunia maka sepanjang hari pikiran kita akan dipenuhi dengan kesibukan dunia.

Inilah salah satu hikmah mengapa orang yang menyediakan waktu di pagi harinya untuk berdzikir kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa maka sepanjang harinya mereka lebih bahagia. Ibnu Taimiyah berkata: “Dzikir pagi hari bagi jiwaku ibarat sarapan bagi badan. Bila karena tidak sarapan badan menjadi lemah, demikian pula jiwaku ketika meninggalkan dzikir pagi hari.

Penghubung Manusia dengan Kehidupannya

Antara malam dimana ia adalah waktu istirahat dan siang sebagai waktu untuk bekerja, keduanya dipisahkan oleh pagi. Pagi adalah pintu masuk menuju sibuk. Kita tidak mungkin menghindari aktivitas sibuk di siang hari kalau memang itu adalah kebutuhan bagi kita. Tetapi akan sangat berbeda keadaan orang yang mendatangi kesibukan dengan segenap persiapan psikis, dengan mereka yang tak persiapan sama sekali.

Bayangkanlah di siang hari kita akan menghadapi berbagai urusan, bertemu orang yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, mendapati masalah di luar dugaan, mendengarkan perkataan menyakitkan, mendapatkan dukungan atau penolakan. Lalu untuk menghadapinya, kita hanya memiliki waktu satu atau dua jam di pagi hari. Itupun sudah diisi dengan aktivitas mandi, makan, mempersiapkan pekerjaan, dan membantu urusan rumah tangga. Setiap hari seperti itu. Tiba-tiba orang yang seperti ini mendapati dirinya kelelahan dan jenuh dalam hidup tanpa mengetahui apa penyebabnya. Maka orang yang bangun pagi akan lebih memiliki banyak persiapan, banyak cara, dan banyak sudut pandang positif dalam menghadapi kesibukan siang hari.

Saudaraku, mari kita merenung sejenak. Melihat ke dalam diri. Adakah kita termasuk orang-orang yang selama ini lalai terhadap amanah waktu pagi? Dimana Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa mengamanahi kita mengisi pagi dengan shalat tahajjud, shalat shubuh, dan memperbanyak dzikir kepada Allah. Dengan alasan sibuk, tadi malam tidur sampai larut, kemudian pagi yang penuh berkah kita lalui dengan kesia-siaan dan kelalaian. Mari kita jujur, apakah dengan merampas keberkahan waktu pagi, lalu digantikan dengan tidur, sibuk mengurus duniawi, akan membuat urusan kita makin baik, makin lancar? Demi Allah tidak.

Bagaimana hari ini, ditentukan saat kita bangun tidur. Ambil saja contoh saat bangun tidur ingat kalau punya hutang kepada seseorang, maka badan kita terasa tidak segar, pikiran tidak nyaman, dan tidak semangat karena mengingat hal yang buruk.
Nah, seandainya jika kita bangun tidur ingat Allah dengan membaca doa bangun tidur, insyaa Allah akan membuat hari kita lebih tenang.

Semoga Allah merahmati kita semua.

 

Sumber : Majalah Nurul Hayat edisi 147 – April 2016 (Jumadil Akhir – Hijriyah 1437 H)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.