ArtikelKisah Inspiratif

Lima Mengapa

Ada orang yang ketika kita tanya cita-citanya, ia bilang ingin dapat kerja di perusahaan bonafide. Ketika kita tanya kenapa, ia jawab gajinya gede. Saat kita lanjut terus apa harapannya nanti, ia menjawab agar bisa hidup dengan nyaman dan bisa menikmati masa pensiun dengan tenang.

Ada yang mengajukan jawaban lebih parah lagi,

“Apa keinginanmu?”

“Aku ingin punya mobil merk ini,”

“Kenapa?”

“Ya, biar keren aja!”

Hidup yang hanya sekali ini sangat sayang jika tersiakan dengan harapan-harapan yang ternyata tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tugas besar kita sebagai manusia. Sebagai makhluk yang paling sempurna.

Hal ini tidak saja terjadi pada orang awam yang tidak mengecap bangku pendidikan formal. Tapi melanda jiwa kaum yang dikenal intelek oleh sekitarnya. Mereka sekolah puluhan tahun, kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi untuk menyelesaikan pendidikan kesarjanaannya, tak puas, ia pun menambah lagi dengan pendidikan magisternya. Masih kurang, ia pun menempuh pendidikan doktoralnya. Masih kurang juga, ia berjuang habis-habisan untuk meraih dan menyandang gelar guru besar. Gelar profesor tersandang, ternyata ia sudah renta dan menginjak pensiun. Sementara hidupnya belum banyak memebri arti lebih kepada sesama. Hidupnya diabdikan demi meraih rentetan gelar yang ternyata tak membuat perannya dalam masyarakat bisa kian manfaat. Ia terlena oleh gelar, terlena oleh panggilan, terlena oleh sebutan. Hidupnya habis meraih sesuatu yang tak berguna sedikitpun bagi hidupnya kelak di barzakh.

Yang lebih miris lagi, ketika penyakit ini menghinggapi tokoh-tokoh agama. Mereka memulai karier sebagai penceramah. Menjadi dai yang menarik dan memikat hati jemaah. Sayang, ia salah memasang niat dalam hati. Ia hanya ingin menjadi dai terkenal sehingga banyak undangan yang mengalir padanya. Ia belajar agama untuk unjuk ilmu di depan sesama, Ia menghafalkan banyak ayat dan beragam hadits demi dianggap ulama oleh jemaah. Ia pun dengan percaya diri menyematkan gelar ustadz di depan namanya. Setelah agak lama jam terbang ceramahnya, ia pun akhirnya berani menyematkan gelar kyai haji bahkan syaikh sebagai gelar kebanggaannya. Hidupnya hanya memburu wibawa. Usianya dihabiskan demi meraih puji dan puja. Umurnya habis digerogoti aktivitas yang bukannya membawanya ke surga, justru memerosokkan ke dalam jurang neraka.

Ada sebuah kisah yang bisa dijadikan sebagai ibrah hidup. Tentang seorang penerjemah Al-Quran yang akhir hidupnya tersisih karena cita-cita yang disorientasi. Namanya Abdullah Yusuf Ali. Ia lahir di Bohra, Bombay, India pada 17 April 1872. Kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggrisnya luar biasa. Berbekal penguasaan bahasa yang cukup baik itu, ia pun memutuskan untuk berkeliling Eropa. Bermula dari London, Yusuf Ali memperkenalkan Al-Quran dan studi ilmu Quran kepada masyarakat.

Pada tahun 1953 ia mulai menerjemahkan kitab suci Al-Quran ke dalam bahasa Inggris. Setelah empat tahun bekerja keras, akhirnya terjemahan itu tuntas. Terjemahan Al-Quran karya Yusuf Ali, The Holy Quran: Text, Translation, and Commentary, tercatat sebagai terjemahan Al-Quran yang paling banyak dibaca oleh warga dunia. Hingga kini, sudah sepuluh penerbit yang menerbitkan dan mencetak ulang The Holy Quran.

Ternyata di belakang prestasi yang mengagumkan itu, menurut MA Sherif, penulis biografi Yusuf Ali, ternyata sejak kecil Yusuf Ali menyimpan ambisi untuk memperoleh gelar kehormatan dari kerajaan Inggris.

Setelah berhasil mendapat tempat di kerajaan Inggris, Yusuf Ali lebih setia kepada kerajaan Inggris dibandingkan dengan dengan persoalan agama yang dianutnya. Yusuf Ali bahkan nekat mengawini perempuan Inggris di sebuah gereja di Inggris. Kecerobohan ini dimanfaatkan oleh kerajaan Inggris untuk menyingkirkan Yusuf Ali.

Setelah menyadari bahwa dirinya disingkirkan oleh kerajaan, ia merasa dirinya menjadi manusia yang tak memiliki kehormatan. Istrinya kabur. Anak-anaknya pun meninggalkannya.

Yusuf Ali pun berada dalam kekecewaan dan kesedihan yang mendalam. Dalam keputusasaan itu, ia memutuskan untuk pindah ke Kanada dan hidup menyendiri di sana. Beberapa saat kemudian, tepatnya 10 Desember 1953, Yusuf Ali meninggal dunia. Polisi menemukan Yusuf Ali tergeletak di rumah dan membawanya ke rumah sakit. Tapi penerjemah Al-Quran terkemuka itu akhirnya meninggal di tengah perjalanan. MA Sherif mengemukakan bahwa Yusuf Ali selama ini ternyata tidak mempelajari apapun dari Al-Quran untuk dirinya sendiri. Ambisinya membuat hidupnya penuh dengan duka hingga akhir hidupnya.

Kawanku, hati-hati dengan cita-citamu. Karena kebanyakan umur kita dihabiskan untuk meraih itu. Kerja keras dan energi terkuras untuk mengejar apa yang kita cita-citakan. Betapa ruginya jika hidup yang hanya sekali ini kita habiskan untuk mengejar cita-cita yang salah. Cita-cita yang bukannya berujung bahagia, justru membawa diri kepada derita.

Inilah rumus agar cita-cita kita mengarah pada cita-cita yang benar, yakni tanyakan ‘5 Mengapa’ pada cita-cita dan keinginanmu. Kalau kau tak bisa menjawab, atau jawabannya tak mengarah pada ketaatan pada Tuhan, lebih bijak jika kau men-delete dan merevisi cita-cita dan keinginanmu itu. Lebih baik lagi kalau sebelum ‘5 Mengapa’ sudah ada jawaban yang mengarah pada Tuhan.

Misal, “Apa yang kau inginkan?” “Aku ingin kaya.” “Mengapa ingin kaya?” “Agar aku bisa membantu banyak orang.” “Mengapa ingin membantu banyak orang?” “Karena untuk itulah aku dicipta Tuhan.”

Sumber: Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati-Transform Our Life, Help Others, Stay Positive – Ahmad Rifa’i Rif’an

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.