Artikel

Matangkan Agenda Ramadhan

Ramadhan udah dekat nih, yuk yuk bahas keutamaan amaliah Ramadhan. Membahas keutamaan amaliah Ramadhan, tidak pernah bosan meski diulang-ulang setiap tahun. Menyebut-nyebut keutamaannya adalah bagian dari semangat memuliakan Ramadhan. Berikut rangkuman keutamaan amaliah Ramadhan dalam alur agenda harian.

  1. Mulailah hari dengan shalat dan dzikir

sebuah keberkahan luar biasa jika kita sanggup memulai hari dengan shalat berjamaah subuh di masjid. Salah satu keutamaannya adalah sebagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah, maka seolah-olah ia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim)

datanglah ke masjid, tanpa harus menunggu selesainya kumandang adzan. Kejarlah keutamaan shaf pertama. “Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan para malaikat-Nya memberikan shalawat kepada (orang) yang berada pada shaf pertama.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim).

Usai melaksanakan shalat jamaah shubuh, sebaiknya kita jangan langsung beranjak. Ada satu keutamaan yang dalam momen Ramadhan ini harus terbiasa kita latihkan. Yaitu wirid atau dzikir pagi. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah hingga terbitnya matahari, lalu ia shalat dua rakaat dhuha, maka ia akan memperoleh pahala haji dan umrah.” Rasulullah kemudian berkata, “Sempurna…sempurna…sempurna” (HR. Turmudzi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah biasa berdzikir setelah shalat shubuh tanpa beranjak dari tempat duduknya. Beliau berkata, “Ini adalah sarapanku, bila kutinggalkan, hilanglah kekuatanku.”

  1. Berpuasa dengan Kesungguhan

puasa di bulan Ramadhan merupakan penghapus dosa-dosa yang terdahulu. Sebagaimana Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam sampaikan: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun Alaih).

Puasa yang digambarkan nabi sebagai penghapus dosa masa lalu adalah puasa yang diiringi kesungguhan mengekang hawa nafsu. Sehingga maksud berpuasa dengan kesungguhan bukan sekedar kita sukses tidak makan dan tidak minum. Kalau makan dan minum adalah pembatal puasa, maka ada nafsu lain yang ia tidak membatalkan tapi sanggup menghapus pahala dan keutamaan puasa. Rasulullah mengingatkan, “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu kecuali rasa haus dan lapar.” (HR. Turmudzi). Artinya, mereka berpuasa dengan tidak makan dan tidak minum, tapi syahwat mata, mulut, dan hati masih diumbar sedemikian rupa.

Jangan sampai juga, karena panasnya siang dan lemahnya badan, kita meninggalkan shalat jamaah Dhuhur dan Ashar. Tidak ada ibadah yang kemudian melemahkan ibadah lain. Bila itu terjadi, ada yang salah dengan ibadah tersebut. Ada yang keliru dengan puasa kita.

  1. Membaca Al-Quran sesering mungkin

membaca Al-Quran sangat dianjurkan bagi setiap Muslim di setiap waktu dan kesempatan. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Bacalah Al-Quran, sesungguhnya ia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya (yaitu, orang-orang yang membaca, mempelajari, dan mengamalkannya).” (HR Muslim)

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam selalu memperbanyak membaca Al-Quran di hari-hari Ramadhan, seperti diceritakan dalam hadits Aisyah Radhiallaahu’anhu, ia berkata: “Saya tidak pernah mengetahui Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam membaca Al-Quran semuanya, shalat sepanjang malam, dan puasa sebulan penuh, selain di bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad).

Bagi kamu yang merasa tidak lancar atau sulit membaca Al-Quran, janganlah patah semangat. Kamu adalah orang yang dimuliakan Allah dan mendapat dua pahala ketika kamu bersedia membaca Al-Quran meski terbata-bata dan keliru di sana-sini tanpa sengaja. Jadikan Ramadhan momen belajar membaca Al-Quran. Rasulullah bersabda: “Orang yang membaca Al-Quran dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran.” (HR. Bukhari Muslim).

  1. Mendirikan shalat tarawih berjamaah

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyamul lail Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Muslim).

Jangan berlama-lama dalam suasana buka puasa dan bersantai melepas penat. Shalat Isya’ dan tarawih menantimu. Segera ambil wudhu dan bergeraklah menuju masjid. Berlama-lama di masjid lebih baik daripada berlama-lama di rumah tanpa ada alasan yang syar’i.

  1. Menghidupkan malam-malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan. Menurut pendapat paling kuat, malam kemuliaan itu terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Terlebih lagi pada malam ganjil, yaitu malam 21, 23, 25, 27, dan 29.

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadar: 3).

Malam itu adalah pelebur dosa-dosa di masa lalu, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Dan barangsiapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar semata-mata karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, niscaya diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari).

Yang dimaksud dengan menghidupkan Lailatul Qadar adalah dengan memperbanyak shalat malam, membaca Al-Quran, dzikir, berdoa, membaca shalawat, tasbih, istighfar, i’tikaf, dan lainnya.

  1. Sedekah berlipat-lipat dibanding bulan biasa

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam adalah orang yang paling pemurah, dan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas Radhiallaahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam adalah manusia yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan saat Jibril Alaihissalaam menemui beliau.” (HR. Bukhari).

  1. Raih kesucian hati lewat tafakkur dan i’tikaf

I’tikaf dalam bahasa adalah berdiam diri atau menahan diri pada suatu tempat, tanpa memisahkan diri. Sedang dalam istilah syar’i, i’tikaf berarti berdiam di masjid untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dengan cara tertentu, sebagaimana telah diatur oelh syariat. I’tikaf merupakan salah satu perbuatan yang dikerjakan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam, seperti yang diceritakan oleh Aisyah Radhiallaahu’anhu: “Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam selalu i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai meninggal dunia, kemudian istri-istri beliau beri’tikaf sesudah beliau.” (Muttafaqun Alaih).

Sumber: Majalah Nurul Hayat Edisi 125 – Juni 2014 (Sya’ban – Ramadhan 1435 H)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.