ArtikelKisah Inspiratif

Memberi itu Tidak Bersyarat

Dikisahkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim dalam Shalihin sebuah hadits Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam yang menceritakan tentang seseorang pada tiga malam berurut-turut bershodaqoh. Tanpa disadarinya, pada malam pertama dia memberikan kepada seorang pezina. Pada malam kedua dia memberikannya pada seseorang yang sangat kaya raya. Dan pada malam ketiga dia memberikannya kepada seorang pencuri. Setiap kalijaga menyadari, kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aalaa dia selalu mensyukuri, “Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’aalaa atas shodaqohku pada seorang pecinta, seorang kaya, dan seorang pencuri.”

Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassallam melanjutkan sabdanya, “kemudian diutuslah malaikat kepadanya. Malaikat itu mengatakan, “Shodaqohmu telah diterima. Adapun si pezina, mudah mudahan karena Shodaqohmu ia tercegah dari berzina. Adapun si kaya, mudah mudahan dia terinsyaf untuk berinfaq juga. Adapun si pencuri, mudah mudahan dengan Shodaqohmu dia terjaga dari perbuatan mengambil milik sesama.”

Memang seharusnya begitulah memberi. Tiada syarat atasnya. Tanpa mengharap balasan. Karena memberi adalah bentuk dari iman. Bahwa kebaikan, yang ia kerjakan terlihat jelas oleh Yang Maha Melihat. Karena sesungguhnya balasan adalah pemberian kembali yang melunaskan zahir, sedangkan terima kasih adalah ungkapan syukur yang memuaskan batin. Pemberi yang mengharapkan wajah Allah Subhanahu Wa Ta’aalaa, sama sekali tidak mengharapkan keduanya. Sebab balasan Allah Subhanahu Wa Ta’aalaa sudah menjadi keuntungan yang melampaui segalanya.

Padahal, kalau kita menyimak kehidupan kita. Pemberian kita senantiasa didampingi persyaratan. Kebaikan yang kita keluarkan selalu diikuti tuntutan yang memberatkan penerimanya. Entah itu menolong, memberi, mencintai, memaafkan, selalu menuntut balasan kebaikan yang setimpal sehingga apabila kebaikan yang telah susah payah ia upayakan, tak terbalas seperti yang ia harapkan, menderitalah ia karenanya. Entah itu berupa kemarahan, kekecewaan, kesedihan, atau rasa sakit di ulu hati sehingga banyak orang yang menimbang kembali perbuatannya. Padahal, yang ia lakukan adalah kebaikan. Dan kebaikan tidaklah menghasilkan selain kebaikan yang sepadan bahkan lebih.

Sejarah mencatat bahwa pernah ada anak manusia yang bergelar As Siddiq, bernama Abu Bakar yang menolong seorang budak Habsy yang sedang disiksa majikannya dengan membelinya seharga 9 Ugyah emas. Yang apabila kita sepadankan dengan uang kekinian setara Rp 119 juta! Ia membeli budak itu dan membebaskannya.

Ia menolong budak itu tanpa pernah berpikir bahwa budak itu kelakkelas menjadi nama yang dikenal penduduk bumi beribu tahun kemudian. Dia tidak tahu bahwa budak itu akan terkenal juga oleh penduduk langit. Tak tahu dia. Yang dia tahu adalah dia harus memberi apa yang mampu ia beri tanpa meminta balasan dia menolong tanpa syarat.dia hanya mengharap baalasan Allah Subhanahu Wa Ta’aalaa yang baginya adalah keberuntungan yang melampaui segalanya.

Demikianlah kawan, orang-orang sholih terdahulu mengajarkan kepada kita bagaimana memberi tanpa syarat itu mampu melipatkan kebaikan. Yakni dengan segera melupakan kebaikan itu sendiri. Melupakan kebaikan yang kita hasilkan memang bukan perkara mudah. Namun kalau kita tahu, sesungguhnya kebaikan yang kita berikan itu tidak berarti apa-apa dibanding dengan balasan yang akan kita terima.

Orang-orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan tidak menyakiti perasaannya sang penerima, mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. “Tiada kekhawatiran atas mereka dan tidaklah mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 262).

Begitulah Al-Quran mengajarkan kita. Bahwa seharusnya kita tidak memerlukan mata, telinga, dan lisan sesama untuk mengetahui kebaikan yang kita kerjakan. Namun sayangnya, masih saja kita terusik kala pemberian kita tidak mendapat balasan seperti yang biasa tersembunyi dan terselip dalam hati. Dan juga sayangnya, kita selalu menyertakan keinginan lain atas kebaikan yang kita berikan. Dan sayangnya sekali lagi, selalu mensyaratkan deretan keinginan pribadi yang sepertinya baik atas kebaikan yang belum tentu juga niatnya betul. Demikianlah kawan, kebaikan yang tidak akan tumbuh menjadi pohon kebaikan karena ditanam di lahan yang kosong dari menghadirkan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.

Juga, janji Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa di surat Al-Baqarah itu tidak mampu menebas keinginan atas pengakuan manusia atas kebaikan yang sudah dikerjakan. Gelitik hati untuk ingin dilihat, ingin didengar, ingin terkenal, dan ingin-ingin yang lain yang tidak akan ada habisnya. Kebaikan yang menjauhkan dari keberkahan. Karena tidak ada ruang untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa di dalamnya, karena telah sesak dengan ingin-ingin yang di dalamnya semua berisi dunia.

Padahal, kata Ibnu Qayyim al-Jauziyah: “Berkah adalah manfaat dunia dan akhirat.” Beliau katakan: “Maka seorang yang diberkahi lagi penuh berkah, ke manapun dia pergi dan di manapun dia bertempat, pasti akan mendatangkan manfaat dunia dan akhirat bagi arah yang dituju, daerah yang didiami dan orang-orang yang mengitari.”

Akhirnya, kalau kita kumpulkan makna tanpa syarat itu sesungguhnya isinya hanya Allah. Tauhid. Tidak lebih dan tidak kurang.

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minuun: 60).

Mengutip tulisan Ust. Salim A Fillah: “Bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengkhawatirkan bahwa infaq mereka jauh dari layak dan sama sekali tak sempurna. Lalu mereka tersergap rasa ngeri bertubi-tubi bahwa dengan segala cacat dan rombeng itu, shadaqah dan infaq mereka tak akan diterima Rabb Yang Maha Tinggi. Mereka amat takut, bahwa kelak ketika mereka menghadapi hisab, Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa akan menjadikan segala kebaikan mereka hilang tak terbekas. Mereka amat curiga pada niat diri di dalam hati, jangan-jangan kelak Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa akan berfirman: “Dusta engkau! Kau lakukan semua itu hanya agar manusia mengatakan kau seorang dermawan”.”

Begitulah kawan, tergelincirnya hati itu sangat halus terjadi. Atas kebaikan yang telah susah payah kita bangun ini. Tidak berlebihan rasanya, kalau saatnya kita mewaspadai, untuk menjadi seorang yang memberi tanpa menyandingkan harapan. Karena memberi itu tidak bersyarat. Karena memberi itu hanya membesarkan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang Maha Memberi. 

Oleh : Evi S. Zubaedi (Pemerhati Pendidikan Anak)

Sumber : Majalah Nurul Hayat Edisi 142 – Nopember 2015 (Muharram – Safar 1437 H)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.