Tulisan

Overthinking

Segala kemudahan informasi yang dibawa oleh perkembangan teknologi kini telah mengubah sedikit banyak gaya hidup manusia. Mereka setiap hari memperbarui lini masa, bertanya tentang berita paling segar, hingga beralih memposting pencapaian-pencapaian mereka. Media sosial yang dianggap solusi untuk mendekatkan yang jauh, telah membuat sebagian manusia lain terjatuh. Manusia mulai merasa tersaingi, dan merasa tidak seberuntung orang lain. Tanpa disadarinya, mereka hidup dengan pikiran-pikiran yang seharusnya tidak perlu untuk dipikirkan. Inilah yang disebut overthinking.

Overthinking telah banyak dirasakan oleh manusia di zaman serba canggih. Mereka memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan, apa yang dipikirkan orang lain tentang dia, ataupun bertanya-tanya tentang kesedihan mendalam yang tidak tahu pasti sebabnya. Perasaan-perasaan negatif ini telah mengusik para muslim-muslimah dan mengganggu produktivitas kita untuk beramal baik. 

Sebagai seorang muslim dan muslimah, tentu hal yang menjadi pedoman hidup kita adalah Al-Quran. Al-Quran yang meski telah ada sejak 1400-an tahun lalu, tidak akan pernah tertinggal oleh zaman. Kabar gembiranya, ternyata Al-Quran sudah jauh lebih dulu memaparkan seperti apa itu dunia.

Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. (Q.S. Al-Baqarah [2] : 155)

Di dalam ayat tersebut, terdapat kata “pasti”. Sedangkan Al-Quran itu sendiri, tanpa ditambah kata untuk meyakinkan sesuatu hal, telah diyakini pasti kebenarannya. Sehingga dalam ayat tersebut Allah SWT bersungguh-sungguh dengan kata tersebut bahwa kita benar-benar akan diuji saat hidup di dunia. Ketakutan, kegelisahan, overthinking, adalah emosi yang akan menjadi ujian selama kita masih bernapas.

Manusia, dengan fitrah akalnya, akan memikirkan segala perkara yang ada di kehidupannya. Apabila pikiran-pikiran yang ada di kepala kita tidak teregulasi dengan baik, maka fitrah akal yang mulia itu bisa menjadi sesuatu yang negatif. Untuk meminimalisasi pikiran-pikiran berlebih ini, Islam menuntun manusia untuk berikhtiar dengan menentukan goals sebagai seorang mukmin, yaitu mencari keridhoan Allah. Target-target yang ia buat akan memfokuskan akal pikirannya kepada tujuan-tujuannya. Dengan begitu, dia akan memanfaatkan segala nikmat Allah yang diberikan untuk mencapai targetnya sebagai seorang mukmin.

Hal yang perlu dicatat oleh kita sebagai muslim-muslimah adalah bahwa dunia ini bukanlah surga. Dunia tidak dirancang untuk menjadi sempurna sesuai dengan harapan kita. Dunia tidaklah tempat untuk berleha-leha. Dunia bukanlah tujuan akhir orang-orang beriman. Dunia ini adalah tempat bersusah payah dan tempat berikhtiar untuk mendapatkan ridhoNya. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga serta membimbing kita dalam kemuliaan Islam.