ArtikelKisah Inspiratif

Sebelum Maut Menjemput…

Tulisan ini saya ambil dari salah satu grup WhatsApp di ponsel saya. Terlepas dari nyata atau tidaknya kisah ini, saya berharap semuanya mendapatkan pelajaran dari tulisan ini.

FEBRUARI 28, 2018
Bismillaah..
Hari ini, sepulang kuliah, hati saya berdebar tak karuan, perasaan saya campur aduk, mata saya ingin menangis tapi entahlah, udara yang terlalu dingin dan kerumunan orang ramai di sini melarang air mata saya untuk keluar.
Guru saya, hari ini menyampaikan sebuah hadits, yang sebenarnya sudah sering saya dengar, terngiang-ngiang di telinga saya, bahkan sampai ke tahap saya sudah hafal hadits tersebut hanya karena sering mendengarnya, bukan karena saya hafalkan dengan sengaja. Hadits itu adalah perkataan kekasih saya yang tercinta; Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam :
‎يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al-Qur’an nanti, ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah (bacalah) sebagaimana engkau di dunia mentartilnya (membacanya) ! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).”
Tetapi, alasan hati saya terenyuh setelah mendengar hadits ini, adalah cerita yang disampaikan oleh guru saya, terjadi pada dirinya sendiri…
Pada suatu hari, beliau menyampaikan sebuah kajian di sebuah tempat di Kota Madinah, kemudian beliau menyebutkan hadits ini, menjelaskan kepada para jemaah dengan gaya bicaranya yang sangat saya sukai, menyentuh, dari hati ke hati, membara, dan banyak lagi yang tak bisa saya ungkapkan di sini. Saya yakin, saat itu, para jemaah tersentuh hatinya sebagaimana biasanya beliau menyentuh hati saya dan teman teman dengan kalimat-kalimat indahnya, menghidupkan jiwa yang mati di dalam diri kami, menyulutkan semangat belajar ketika datang kemalasan dan rasa kantuk.
Setelah kajian selesai, datang seorang ibu tua kepada beliau. Tua, renta. Umurnya kisaran 75 tahun. Bayangkan sekarang juga, ibu-ibu tua berumur 75 tahun. Bayangkan bagaimana lemah tubuhnya, keriput mukanya dan getaran tangan juga kakinya. Beliau datang, dengan hati yang tulus, semangat yang menggebu berkata kepada guru saya
” Wahai anakku, aku, ingin berada di tingkat yang tertinggi di surga itu, aku ingin bisa berada di sana, tapi, aku tidak bisa membaca Al-Qur’an sama sekali”
Saudara saudariku yang kucintai karena Allah..
Sebelum saya melanjutkan cerita ini, saya ingin saudara saudari para pembaca semua bertanya kepada diri sendiri, bertanya berapa umurku saat ini lalu tanyakan lagi, apa ada di dalam diriku semangat menghafal Al-Qur’an dan semangat mencapai surga tertinggi  seperti yang dimiliki si ibu tua? Tanyakan dan simpan jawabannya.
Kemudian guru saya, bergegas pergi ke kantor beliau, mengambil sebuah tas yang isinya paket lengkap kaset murottal Syekh Al Minsyawi hafizhohullahu ta’ala (saat itu belum ada/belum tersebar Al-Qur’an-Al-Qur’an digital seperti sekarang), guru saya berikan kepada ibu tua itu, agar ibu tua itu bisa menghafal dengan kaset-kaset itu, karena beliau sama sekali tak bisa membaca Al-Qur’an.
Ibu itu pulang, tentu dengan kebahagiaan yang teramat sangat, yang hanya dirasakan oleh orang-orang yang bersih hatinya, yang merindu akan surga dan Robb nya ‘Azza wa Jalla, mulailah dari saat itu sang ibu tua menghafal, mendengarkan kaset pemberian guru saya setiap hari, menghafalkan 1 HALAMAN setiap harinya, menyetorkan nya kepada guru saya, kemudian duduk menghabiskan waktunya mengulang ulang hafalan di sisi guru saya
Yang terlewat saya sampaikan di awal adalah bahwa sang ibu tua sudah tinggal sendirian di rumahnya, karena anak-anaknya sudah membangun bahtera mereka masing -masing. Sebelumnya, beliau hampir setiap hari menelpon anak-anaknya, menanyakan kabar mereka, meminta mereka mengunjunginya, menyampaikan bahwa beliau merindukan mereka dan sebagainya sampai hari hari dimana beliau mulai menghafalkan Al-Qur’an, beliau melarang anak-anaknya untuk mengunjunginya kecuali di Hari Kamis dan Jumat, karena beliau tak mau waktunya banyak terbuang sebelum ajal menjemputnya. Karena dia punya tujuan, SURGA TERTINGGI.
Lihatlah bagaimana alquran memalingkan kita dari dunia.
Akan hilang sedikit demi sedikit kecintaan akan dunia bersama banyaknya ayat yang kita hafalkan. Sampai datang masanya kita memandang dunia dengan penuh kehinaan karena apa yang tersimpan di dalam dada jauh lebih mulia dibanding gemerlapnya dunia.
Singkat cerita, karena kesungguhan sang ibu tua dalam menghafal Al-Qur’an, beliau dapat menyelesaikan hafalannya dalam waktu 2 tahun saja. Istiqomah dalam menghafal setiap harinya, mengulang hafalannya, melihat dan merevisi terus menerus niat beliau dalam menggapai surga, membuat Allah memudahkan beliau untuk menyelesaikan hafalannya. Bacaan beliau, jangan ditanya, mutqin, bersih dari kesalahan-kesalahan, tidak kalah dari orang yang bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar.
Sebelum saya lanjutkan lagi, ingat-ingat lagi berapa umur ibu tua ini, dan kurangkan dengan umur Anda. Setelah dapat selisihnya, bila tak timbul rasa malu, sepertinya ada yang perlu ditanyakan tentang hati Anda.
Guru saya begitu terharu, sampai akhirnya meminta sang ibu berbicara di depan khalayak ramai bagaimana dia bisa menghafal Al-Qur’an dalam waktu dua tahun saja, sang ibu berkata,
“Wahai anakku, sungguh aku tidak mau berbicara di depan khalayak ramai kemudian dikatakan seorang hafizhoh Al-Qur’an dan dipuji puji oleh manusia. Bukankah aku sudah katakan dari awal, seperti katamu wahai anakku, bahwa aku hanya ingin naik dan naik nanti di hari kiamat ke surga yang tertinggi.”
Guru saya terus membujuk beliau, menyampaikan berbagai alasan, bahwasanya beliau ingin orang lain pun melakukan hal yang sama seperti halnya si ibu, membagikan semangat beliau yang begitu segar di umur beliau yang telah hampir layu, guru saya ingin orang-orang mengambil pelajaran, dari si ibu.
Dan akhirnya, dengan izin Allah, si ibu menyetujuinya, kemudian ditentukanlah tempat dan tanggal pertemuan tersebut..
Pada hari yang ditentukan, setelah guru saya memberikan sedikit muqoddimah dan nasehat, dengan perasaan gembira dan rindu yang mendalam, guru saya memanggil nama si ibu tua, dengan penuh harapan bahwa kebaikan yang banyak akan mengalir di kota madinah, akan tumbuh penghafal penghafal Al-Qur’an dari kalangan muda dan tua, karena saya yakin siapapun yang melihat ibu tua ini akan tersulut semangatnya untuk menghafal Al-Qur’an  saya sangat yakin.
Namun apa yang terjadi tak seperti yang diperkirakan, karena Allah yang Maha Mengatur lagi Maha Mengetahui, manusia berencana, namun keputusan ada di tangan–Nya..
Berdirilah seorang anak gadis, remaja, umurnya sekitar 15 tahun, padahal yang diharapkan berdiri adalah ibu tua berumur 75 tahun..dia berkata, di depan para jemaah,
“Wahai ustadzah…sesungguhnya nenekku, telah meninggal, dua hari yang lalu”
Allahu Akbar
Semua terdiam, guru saya, para jemaah, dan tentunya kami semua, yang mendengar cerita itu hari ini, ada yang tertunduk, ada yang sudah menangis tersedu sedu, ada yang termenung, ada yang sibuk mencari tissue di tasnya, adapun saya, tak henti hentinya mengucap kalimat takjub, tangan saya dingin, hati saya menangis dan teriris, bukan karena sang ibu sudah meninggal dunia, atau karena sang ibu tak jadi berbicara di depan orang ramai, bukan sama sekali, yang membuat saya begitu sedih dan terharu, adalah bagaimana Allah menginginkan kebaikan untuk beliau di sisa-sisa hidupnya. Bagaimana Allah mengantarkan beliau untuk mendatangi majelis guru saya di hari itu, bagaimana Allah menggerakkan hati beliau untuk bisa menghafal Al-Qur’an. Bagaimana Allah membuat beliau istiqomah. Bagaimana Allah timbulkan kecintaan beliau kepada Al-Qur’an..Itu membuat saya berpikir, Bagaimana dengan saya? Apakah Allah menginginkan kebaikan untuk saya? Ada di mana saya nanti di hari kiamat?
Saudara saudariku yang kucintai karena Allah
Percayalah, selalu ada jalan menuju kebaikan
Selalu ada jalan menuju surga Allah
Tidak ada tempat ketiga di surga, bila kita tak bisa menggapai surga-Nya maka sudah jelas kita akan berada di mana, wal ‘iyaadzu billah
Selalu ada jalan apabila kita mau berjuang
Tak ada yang tak mungkin
Umur dan kesibukan bukan penghalang untuk menghafal Al-Qur’an
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, diutus ketika beliau berumur 40 tahun, dari situ wahyu turun dan beliau mulai menghafalnya, begitu pula para sahabat, menghafal Al-Qur’an di umur mereka yang telah senja
Tak ada kenikmatan lain selain ketika Allah memilih kita sebagai keluarga dan orang-orang terdekat-Nya. Siapa keluarga Allah? Merekalah orang- orang yang berjalan di atas bumi dan Al-Qur’an tersimpan di dalam dada mereka.
Mulailah
Kita tak tau kapan nafas kita akan habis, jantung kita berhenti berdetak, bisa jadi satu tahun lagi, satu bulan lagi, satu minggu lagi, satu hari lagi, atau bahkan tepat setelah kita membaca tulisan ini….
Mari bangun dari tidur yang panjang ini, saudara saudariku yang kurindukan karena Allah..
Semoga Allah mengumpulkan kita di SURGA yang TERTINGGI, dengan suara aliran sungai dan udara sejuk serta pepohonan hijau, berkumpul dan tertawa bahagia, bersama.
Uhibbukum Fillah….
Madinah Al-Munawwarah,
12 Jumadil Akhir 1439 H
Ukhtukum fillah
Intan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.