ArtikelKisah Inspiratif

Toleran

Kisah ini saya baca belasan tahun silam. Cerita yang begitu menggugah perasaan hingga terus membekas di ingatan.

Saat itu Imam Hasan Al-Bashri sedang sakit keras. Sebagai seorang ulama yang kepribadiannya penuh kharisma,  ia sangat dicintai umat. Tak heran ketika sakit, banyak yang berkunjung ke kediamannya.

Beliau tinggal di rumah susun yang sangat sederhana. Tepat di atas pondoknya, lelaki Nasrani beserta kerabatnya tinggal. Suatu saat, tetangga beliau ini membangun jamban untuk buang air kecil. Karena bangunannya tidak sempurna, air kencing dari kamar kecilnya merembes dan menetes ke dalam kamar Hasan Al-Bashri. Agar tidak kemana-mana, beliau menyuruh istrinya untuk menampung rembesan itu di sebuah ember kecil.

Saat tetangga Nasrani itu datang menjenguk, ia terkejut karena baru tahu jika selama ini air kencing mereka selalu menetes di kamar sang imam. “Sejak kapan engkau bersabar atas tetesan air kencing kami?” tanya tetangganya, “Sebenarnya sekitar dua puluh tahun yang lalu, tapi tidak apa-apa kok,” jawab Imam Hasan Al-Bashri dengan suara parau, “Kenapa engkau tidak memberitahuku?” desak tetangganya, “Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wassalam mengajarkan kami untuk memuliakan tetangga. Meskipun Nasrani, Anda adalah tetangga saya dan saya tidak ingin Anda merasa malu karena saya menyampaikan aib air kencing ini,” tukas beliau lirih yang disambut ucapan dua kalimat syahadat tetangga Nasrani tersebut. Sungguh adab bertetangga yang begitu sempurna ditunjukkan sang imam meski mereka berdua berbeda agama.

Seorang tabiin yang lain yaitu Imam Mujahid pernah meriwayatkan kepada kita, “Saya pernah berada di sisi Abdullah bin ‘Amru. Saat itu pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata, ‘Wahai pembantu! Jika engkau telah selesai menyembelih, maka bagilah dagingnya dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu.”

Lalu ada seseorang bertanya, ‘Kenapa engkau memberikannya kepada Yahudi? Ah, semoga Allah memperbaiki kondisimu.’ Kemudian Abdullah bin ‘Amru pun menjawab, ‘Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassalam sering sekali berwasiat agar kita selalu berbuat baik terhadap tetangga. Sampai-sampai kami khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya.’”

Sementara itu, beberapa puluh tahun sebelumnya di tempat yang berbeda, Patriarch Sophronious, pemuka Kristen Ortodoks Yerussalem sedang bergegas menyambut kedatangan khalifah Umar bin Khattab demi memberikan “kunci kota Yerussalem” sebagai tanda menyerah dengan damai, setelah kota-kota sekitar Yerussalem dikuasai pasukan Islam dari cekraman Byzantium. Sebagai balasan atas penyerahan kota secara damai, khalifah Umar bin Khattab memberikan garansi keamanan untuk warga Yerussalem yang termaktub dalam teks Al’Uhda Al’Umariyyah.

Ath-Thabari mengutip perjanjian yang penyusunannya disaksikan oleh Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Abdurrahman bin Auf, dan Muawiyyah bin Abi Sufyan, sebagai berikut:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jaminan keamanan ini diberikan oleh hamba Allah, pemimpin umat Islam, Umar bin Khattab, kepada penduduk Yerussalem. Umar menjamin keamanan setiap jiwa, harta, gereja, salib, kaum lemah, kaum merdeka, dan semua agama yang ada. Gereja-gereja tidak akan dirusak, dikurangi, atau dipindahkan. Demikian pula dengan salim dan harta-harta mereka. Mereka tak akan dibenci atau diancam hanya karena agamanya..”

***

Lalu corak pengajaran seperti apakah yang telah membentuk probadi-pribadi ini menjadi sebegitu tolerannya terhadap mereka yang berbeda agama? Jawabannya tentu karena ruh keislaman dan kelembutan hati role modelnya yaitu, Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wassalam. Maka mari sejenak kita pulangkan referensi kita pada rujukan utama agama ini yaitu, Al-Quran dan Sunnah Nabi. Di sana jelas kita akan mendapati pesan penting mengenai toleransi dan rambu-rambu yang membatasi hubungan antar agama sudah dibahas tuntas dalam ajaran suci ini.

Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassalam, teladan paling sempurna dalam bertoleransi. Kisahnya pernah diceritakan oleh sejarawan muslim Ibnu Ishak. Ia menuturkan bahwa suatu hari Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassalam dikunjungi 60 orang Nasrani Najran yang dipimpin oleh pendeta Abu Al-Harisah bin Al-Qomah, bermaksud berdebat tentang ketuhanan Nabi Isa yang mereka yakini. Saat rombongan tiba di masjid, kebetulan Rasulullah sedang selesai shalat Ashar dengan para sahabat. Tiba-tiba, rombongan Nasrani itu bermaksud melaksanakan kebaktian. Para sahabat kaget dan bermaksud melarang mereka melaksanakan kebaktian. Tetapi Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassalam malah meminta para sahabat membiarkan, sehingga rombongan itu pun melaksanakan kebaktian seraya menghadap ke timur dengan aman tanpa gangguan.

Sebuah contoh yang sempurna mengenai tenggang rasa. Yaitu membiarkan penganut agama lain menjalankan ritual keagamaan sesuai keyakinannya, tak perlu diusik apalagi sampai memaksa turut andil dalam ibadahnya meskipun sekedar simbol-simbolnya.

Allah berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik pada non-Muslim lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan perihal agama. Sedangkan yang berhubungan dengan ritual keagamaan, Islam jelas berada pada garis yang tegas. Tak ada kompromi. Urusan agama kalian kami tak akan mencampuri, sedangkan urusan keyakinan kami, tolong jangan kalian usik dan masuki. Lakum diinukum wa liyadiin.

Oleh karenanya, wajar jika kita tak pernah menemukan satu peristiwa pun, seorang Muslim yang mengerti betul dengan agamanya melakukan penghinaan, perusakan, atau mengganggu peribadatan non-Muslim. Sebab ayat ini pasti mereka pahami. “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al-An’am: 108).

Begitulah Islam mengajarkan toleransi. Maka jika saat ini umat Islam dengan begitu massive-nya dicitrakan oleh beberapa media sebagai kaum intoleran yang tidak menghargai keberagaman, dengan tanpa mengindahkan asas cover both side, sungguh itu sebuah penyesatan yang luar biasa.

Wallaahu A’lam Bisshowwaab.

Sumber : Majalah Nurul Hayat Edisi 163 – Agustus 2017 (Dzulqo’dah – Dzulhijjah 1438 H)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.