Artikel

Yuk Berqurban #1🐑🐫

Assalamu’alaykum guys 😊
September udah Idul Adha loh..
Ada yang bilang Idul Qurban juga.. 😁
Nah, ane mau bagi-bagi ilmu tentang Idul Qurban. Di part I ini, dibahas apa sih Qurban itu dan apa ya hukum dari ber-Qurban. Yuk, check this out, guys 😉

Qurban adalah binatang ternak yang disembelih pada hari-hari Idul Adha untuk menyemarakkan hari raya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Berqurban merupakan slah satu syiar Islam yang disyariatkan berdasarkan dalil Al Qur?an, Sunnah Rasulullah SAW dan Ijma?(kesepakatan hukum) kaum muslimin.

?Maka shalatlah karena Rabbmu dan sembelihlah qurban!? (QS. Al Kautsar: 2)

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik RA, beliau berkata:

?Nabi SAW berqurban dengan dua ekor kambing kibasy yang berpenampilan sempurna. Beliau sembeli sendiri dengan tangannya. Beliau membaca bismillah, bertakbir dan meletakkan salah satu kaki beliau pada lambung kambing tersebut.? (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Al Bara? bin ?Azib RA, sesungguhnya Nabi SAW bersabda:

?Barangsiapa menyembelih qurban setelah shalat ?Ied maka ibadah qurbannya telah sempurna dan apa yang diperbuatnya itu telah sesuai dengan sunnah umat Islam.? (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi SAW dan para sahabat berqurban, bahkan Nabi bersabda bahwa qurban merupakan sunnah kaum muslimin yang berarti kebiasaan umat Islam. Oleh karena itu, umat Islam bersepakat bahwa berqurban itu disyariatkan, sebagaimana keterangan beberapa ulama. Namun terjadi perselisihan pendapat diantara para ulama, aoakah qurban itu sunnah muakkad ataukah merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggal?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa qurban itu hukumnya sunnah muakkad. Ini adalah pendapat madzhab Syafi?i, Malik dan Ahmad, serta merupakan pendapat yang masyhur dari Imam Malik dan Imam Ahmad.

– Menyembelih qurban lebih utama daripada sedekah uang senilai hewan qurbannya, karena beberapa alasan:

– Menyembelih merupakan amal Nabi SAW dan para sahabat. – Menyembelih qurban merupakan salah satu syiar Allah Ta?ala. Oleh karena itu jika orang lebih memilih untuk bersedekah niscaya syiar ini akan hilang.

– Jika bersedekah seharga hewan qurban lebih utama daripada menyembelih hewan qurban tentu Nabi SAW telah menjelaskan kepada umatnya dengan perkataan atau perbuatan beliau, karena Nabi selalu menjelaskan hal-hal yang terbaik untuk umatnya.

– Bahkan jika bersedekah itu keutamannya sama dengan berqurban, tentu hal ini juga telah dijelaskan oleh Nabi, karena bersedekah jauh lebih mudah daripada menyembelih qurban. Sebagaimana diketahui Nabi SAW tidak akan lalai untuk menjelaskan amal ibadah yang lebih ringan dilakukan oleh umatnya namun memiliki keutamaan yang sama dengan amal yang lebih berat.

Di masa Nabi SAW pernah terjadi kelaparan, maka Nabi bersabda:

?Barangsiapa di antara kalian berqurban, maka setelah tiga hari tidak boleh di dalam rumahnya masih terdapat sisa hewan qurban.? Pada tahun berikutnya, para sahabat bertanya, ?Wahai Rasulullah, kami harus berbuat sebagaimana yang telah kami lakukan pada tahun kemarin?? Maka Nabi bersabda, ?Makanlah daging hewan qurban, berilah makan kepada orang lain dan simpanlah. Karena pada tahun kemarin orang-orang tengah mengalami kesulitan, maka aku ingin agar kalian turut membantu mereka pada tahun itu.? (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, ?Menyembelih hewan qurban pada waktunya lebih utama daripada bersedekah dengan uang senilai harga hewan tersebut. Oleh karena itu jika ada orang yang bersedekah dengan uang yang bernilai jauh lebih besar dibandingkan harga kambing denda (dam)- karena melaksanakan ibadah haji yang didahului oleh ibadah umrah yang juga dilakukan di mas haji (haji tamattu?) dan melaksanakan umrah sekaligus dengan ibadah haji dalam satu prosesi (qiran)- maka sedekah tersebut tidak bisa menggantikan dam. Demikian juga halnya dalam masalah berqurban.?

Hukum asal qurban adalah disyariatkan untuk orang-orang yang masih hidup, sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat berqurban untuk diri dan keluarga mereka. Adapun pemahaman sebagian orang awam bahwa qurban itu khusus dikenakan bagi orang yang sudah mati adalah anggapan yang tidak berdalil.

Menyangkut hukum berqurban untuk orang yang sudah meninggal ada tiga macam:

a. Meniatkan agar orang yang sudah meninggal mendapatkan pahala berqurban bersama dengan orang yang masih hidup.

Sebagai misal, ada seorang yang berqurban untuk diri dan keluarganya. Orang tersebut meniatkan bahwa keluarga yang dia maksudkan mencakup yang masih hidup maupun meninggal.

Dalil yang membolehkan hal ini dalah perbuatan Nabi SAW berqurban untuk diri beliau sendiri dan sekaligus pula diperuntukkan bagi keluarga beliau. Adapun yang tercakup dalam keluarga yang beliau maksudkan adalah anggota keluarga beliau yang telah meninggal.

b. Berqurban untuk orang yang sudah meninggal dalam rangka melaksanakan wasiatnya.

Dalil yang membolehkan hal ini adalah firman Allah yang artinya:

?Barangsiapa mengganti wasiat setelah ia mendengarnya maka dosanya ditanggung oleh orang-orang yang menggantinya. Sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.? (QS. Al Baqarah: 181)

c. Berqurban untuk orang yang sudah meninggal secara khusus sebagai bentuk ibadah tersendiri yang dilakukan oleh orang yang masih hidup atas inisiatif sendiri atau tanpa wasiat.

Hal ini diperbolehkan, bahkan para ulama bermazdhab Hambali (Hanabilah) menyatakan bahwa pahalanya akan sampai ke orang yang sudah meninggal tersebut dan bisa merasakan manfaatnya. Pendapat ini berdasarkan analog dengan sedekah.

Namun demikian dalam pendapat kami pribadi bahwa mengkhususkan qurban untuk orang yang sudah meninggal bukanlah sunnah Nabi, karena Nabi SAW tidak pernah berqurban untuk salah satu anggota keluarga beliau yang telah meninggal secara khusus.

Yap itulah pengetahuan buat kita seputar Idul Adha. Semoga bermanfaat 😊
Wassalamu’alaykum.. 😊

Source : http://www.nurulhayat.org/definisi-dan-hukum-berqurban

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.